Catatan Harian Si Tengah

Friday, April 18, 2008

Hari ini Sabtu. Biasanya kita pergi jalan-jalan entah ke mana; apakah itu sekedar ke taman kecil depan rumah, atau ke taman luas Gotenbei, atau taman yang berjarak lima belas menitan naik sepeda, atau bahkan ke Sakuragicho.

Pagi ini, anakku, udara musim semi berhembus cukup kencang, tapi tidak sampai membuat pot bunga Mama, pemberian orang tua murid teman TK-mu saat perpisahan itu, terbalik. Ya, bunga Pelica ungu kebiruan itu kini kami tempatkan di pekarangan, bukan lagi di atas meja di ruang keluarga, bersisihan dengan sudut main kalian. Sebabnya, ketika Mama, Kakak, kamu dan Adik sepuluh hari di Indonesia, Bapak tidak sempat menyiram bunga tersebut tiap hari. Daripada mati kekeringan, lebih aman ditaruh di luar, di mana air hujan cukup sering turun menyirami tumbuh-tumbuhan yang sedang menyiapkan pentas semarak mereka di musim semi ini.

Udara musim semi yang berhembus pagi ini tak menyebabkan rasa dingin seperti bulan-bulan lalu, anakku. Karenanya, Bapak mengusulkan kita semua pergi jalan-jalan pagi, sekitar jam tujuh, ke kombini terdekat dan makan penganan ringan di taman sekitar rumah. Adik Fadiya yang paling senang, tidak bisa sabar menunggu Mama siap-siap. Kakak Fatimah agak terlambat bangunnya, salat subuh kesiangan. Oya, apa kamu sudah biasa pergi ke masjid salat subuh bersama Kakek atau Om Otto?

Pagi ini semua memakai pakaian bernuansa biru-pink-hitam. Mama memakai rok pemberian Tante Fifi, yang warnanya biru donker. Kata Kakak Fatimah, Mama seperti anak SMP, seperti seragamnya Kakak Aisyah. Pandangan Bapak lain lagi. Mama seperti guru SMA yang enak digoda murid-muridnya. Fadiya sendiri cuma bertanya, apakah Mama mau pergi ke sekolah? Komentar-komentar itu, meski ramai dan panjang, tetap saja terasa kurang. Ada satu gaya komentar yang mestinya melengkapi keramaian itu. Komentar yang biasanya tidak terduga namun brilian, yang dilontarkaln lidah anak kecil yang kini sedang di Indonesia.

Dalam perjalanan menuju ke kombini, Mama melalui jalan yang tepinya banyak tumbuh semak berdaun hijau yang pernah kita ambil untuk pewarna kue, yang di atasnya juga banyak tumbuh pohon bambu yang pernah diambil Om Alling untuk membuat tembak-tembakan saat ke sini sekitar dua bulan yang lalu. Tiba-tiba Mama melihat dua ekor ulat bulu. Warnanya kuning bersetrip hitam, dengan panjang sekitar tujuh atau delapan senti. Tentu saja Mama jadi ingat sama kamu, yang dulu sangat suka mengoleksi ulat bulu.

Ulat-ulat bulu itu akan bertambah banyak sampai awal Mei, dan ketika udara sudah betul-betul hangat, kalau tidak sekalian panas, mereka akan menyemarakkan pemandangan dengan beterbangan sebagai kupu-kupu aneka warna. Kupu-kupu yang juga dulu sering kita kejar namun kemudian kita lepas setelah tertangkap. Adakah engkau juga bisa bercanda dengan ulat dan kupu-kupu di Indonesia? Apakah kalomang yang kita beli di depan SDIT Al-Hikmah, yang kini jadi penghuni baru kotak seranggamu, masih hidup dan ceria berjalan di atas daun-daun sawi? Semoga.

Monday, April 14, 2008

Hadiah Perpisahan


Sudah lama si Tengah mengidam-idamkan keker, atau mungkin dalam bahasa Indonesia resminya : teropong. Barangkali sudah sejak dua tahun yang lalu. Bukan kami tidak pernah memenuhi keinginannya itu; keinginan yang menurut kami bagian dari gairah belajar kanak-kanaknya. Satu dua kali kami sudah membelikan keker, namun biasanya cari yang minimalis saja, seperti beli di toko seratus yen atau di flea-market atau di toko recycle dengan harga yang sangat murah.

Lumrah bila barang yang dicari dengan "pengorbanan minimal" seperti itu, cepat rusak dan tak sesuai kebutuhan. Ya, kebutuhan seorang anak enam tahun yang ternyata tak berbeda dengan kebutuhan orang dewasa. Sejak awal kami memang salah karena memandang Si Tengah sebagai ANAK-ANAK, anak-anak saja, yang keperluannya dicukupkan dengan "barang tipuan" bernama MAINAN. Ia segera tahu dan segera merasa tidak puas karena berbagai percobaan yang ingin ia lakukan dengan barang yang bernama keker itu, tidak terwujud.

Jadilah ketika saya akan berangkat kembali ke Jepang, saat saya menanyainya ia kepingin apa sebagai tanda perpisahan, perpisahan yang dalam rencana kami hanya dalam hitungan bulan, paling lama sampai 12 angka saja, berupa keker yang bagus. Mendengar rencana ini, keluarga besar di tanah air menawar-nawarkan keker mereka. Sebenarnya saya sudah langsung merasa bahwa yang paling tepat adalah membelikan khusus Si Tengah, bukan pemberian dari anggota keluarga lain. Bukan karena tidak ingin memakai barang bekas, dan bukan karena mau sombong mengeluarkan duit sendiri. Tapi karena keker yang betulan itu adalah barang yang mungkin tergolong "berharga" untuk dijadikan milik seorang anak enam tahun.

Saya dapat mengerti bila nanti, mungkin hanya kami, orang tuanya, yang bisa memahami nilai keker bagi MANUSIA enam tahun itu (kali ini saya ingin mencoret kata "anak"). Ya dari lamanya ia mengidamkan, ya dari situasi perpisahan dengan keluarga intinya, ya dari hasrat ingin tahunya yang mungkin tak bisa kita, orang dewasa, membatasinya hanya dengan melihat berapa tahun ia sudah hidup di dunia ini.

Akhirnya saya berangkat tanpa sempat menyerahkan dari tangan saya sendiri keker idamannya. Saya hanya bisa meminta tolong keluarga di tanah air untuk memenuhi mimpi Si Tengah. Kemarin saya meneleponnya, dan Si Tengah bilang, penjual kekernya curang. Katanya bisa dipake melihat sampai satu kilometer. Ternyata tidak. Saya katakan, kalau kamu berhasil jadi pilot pesawat tempur, kamu akan bisa menggunakan keker yang jangkauan pandangnya sampai ratusan kilometer.

Thursday, April 10, 2008

Seperti Jet Coaster

Lebih setahun halaman blog Si Tengah ini tidak terupdate. Bukan berarti tak ada peristiwa lucu dan menarik dengan tokoh utamanya si anak enam tahun yang menurut neneknya, sangat mirip Obama. Sebagian cerita itu masih sempat saya catat di multiply, dan sebagiannya lagi hanya di diary buku tulis. Sebabnya, dulu saya agak malas "main-main" di blogspot, karena saya pikir masih kurang praktis. Tapi ternyata sekarang sudah banyak perubahan. Sepertinya cukup enak untuk dijadikan tempat mencatat.

Sekitar sepekan yang lalu, awal April 2008, untuk pertama kalinya anak-anak pergi ke kolam renang yang luncurannya panjang sekali. Gelanggang Samudera Ancol. Luar biasa senangnya. Barangkali ada tujuh atau delapan kali Si Tengah menggunakan sarana luncuran terpanjang di arena kolam renang tersebut. Luas dan banyaknya variasi permainan di kolam renang tersebut memang berkali lipat dibandingkan kolam renang yang kami datangi hari sebelumnya, di Apartemen Sudirman.

Setelah dua hari berturut-turut main air, ditambah dua-tiga hari sebelumnya melewati perjalanan panjang dari Fujisawa-Jepang yang masih dingin ke Bali-Jakarta yang panasnya lebih lima belas derajat dari negara asal, saya jadi khawatir kesehatan anak-anak bakalan terganggu. Karenanya, saya di hari Senin dan Selasa, saya meminta mereka banyak istirahat di rumah, makan dan minum yang cukup. Tapi namanya juga anak-anak, kalau sudah kumpul mana bisa diam-diam.

Saya merasa perlu berusaha membujuk lebih serius. Saya katakan bahwa masih ada kolam renang yang luncurannya lebih dahsyat daripada kolam renang Ancol. Tempatnya di Pondok Indah. Luncurannya lebih terjal, tidak mungkin bisa berhenti di tengah jalan. Juga harus pakai ban pelampung. Barangkali bisa diibaratkan seperti naik jet-coaster.

Si Tengah lalu nyeletuk dengan seriusnya, "...ya Mama, seperti jet-coaster kah. Tapi, saya pikir, bagaimanapun miripnya dengan jet-coaster, saya yakin tidak bakalan bisa terbalik naik ke atas."

Hahaha...

Sunday, March 18, 2007

Menara

Nanka sa..., menara 'te saaa.... Kalau dulu 'te... pakai tombak jyang..., ne, don don don meningkat de saaa... pakai rudal nano yo... kowakunai? Kowai desu yo... Takut sama menara karena nanti orangnya meninggal, kan kowai.

Tuesday, February 06, 2007

Pengamat yang Tajam

Ada dua serangga yang mirip sekali. Saya tanya Si Tengah, apakah yang ini namanya kabutomushi? Katanya, bukan. Memang sama, tapi kalau kabutomushi, tidak pakai antena. Hal yang sangat sepele, yang kayaknya terlewat dari mata orang dewasa, ya?

Wednesday, November 08, 2006

Di Sekolah : Usai Bermain, Membereskan Mainan Sendiri

Tadi pagi saya ke sekolah Si Tengah. Sebenarnya tidak ada apa-apa. Saya saja yang karena belum juga pandai membaca kanji, terpaksa taklid buta sama informasi si Tengah. Katanya, hari ini ada pentas lagu dan tari yang sudah dia pelajari bersama satu kelasnya. Tadi, saat mau berangkat dengan bisnya, si Tengah memberitahu gurunya bahwa hari ini Mamanya akan datang. Dengan heran Ibu Guru yang yang hari itu mendapat giliran menjadi 'kenek bis', menanyakan kebenaran hal itu pada saya, beberapa setelah si Tengah masuk ke dalam bis. Ibu-ibu yang lain yang juga mendengarkan pertanyaan Ibu Guru, jadi turut bertanya pada saya. Saya jawab saja dengan santai, "Yah, begitulah yang dikatakan si Tengah, hari ini ada pentas. Ibu-ibu akan datang. Saya kira dia salah informasi. Tapi lebih baik saya datang, daripada dia kecewa."

Mungkin buat orang Jepang, datang ke sekolah tanpa tujuan yang pasti, sungguh sebuah pilihan yang tidak efektif. Dan mereka sangat tidak suka pada sesuatu yang tidak efektif. Tapi itulah sebabnya banyak dari mereka yang cepat putus asa dan bunuh diri. Tidak efektif buat mereka, belum tentu tidak efektif buat saya. Untuk saya pribadi, pergi ke sekolah anak-anak tanpa undangan khusus, selalu punya makna tersendiri. Selalu ada yang baru, selalu ada yang menambah energi jiwa saya menunaikan tugas seorang ibu.

Dan benarlah. Tadi di sekolah, saya berkesempatan mengamati si Tengah dari jauh. Si Tengah yang telah mengundang saya datang ke sana, tapi dia juga yang dengan sangat malu meminta saya segera pulang, karena hanya dia yang ibunya datang hari itu. Dari balik pagar, diam-diam saya memperhatikannya.

Usai bermain di pekarangan sekolah, tanpa komando siapapun, dia membereskan semua mainannya. Bolak-balik dari lokasi bermain ke gudang penyimpanan barang-barang.

Pemandangan itu mendatangkan rasa heran buat saya. Mengapakah bila di rumah, si Tengah seperti sama sekali tidak ingat untuk berbuat serupa? Hampir tidak pernah dia meletakkan kembali barang-barang pada tempatnya.

Setelah merenung di sepanjang jalan pulang, saya menemukan jawabannya : rumah belum memberikan keteladanan padanya, bahwa semua orang seusai memakai barang, memang punya kebiasaan mengembalikan barang di tempatnya. Atau lebih tepatnya : saya belum berhasil menembuhkan kesadaran sebenarnya dari dalam hati anak-anak, bahwa barang A tempatnya di A, barang B tempatnya di B.

Let's wait and see. Mari mencoba dua minggu. Bisakah analisa saya terbukti kebenarannya? Nantikan laporan selanjutnya.

Tuesday, October 31, 2006



Bersama satu sekolahnya, dari anak yang paling kecil sampai guru yang paling tua, Si Tengah pergi ke ladang yang berjarak cuma sepuluh menit dari sekolahnya, berjalan kaki. Di sana mereka mencabut ubi jalar, di ladang yang para petani memang telah membuat perjanjian dengan pihak sekolah untuk memenejnya jadi arena gali-gali ubi jalar buat anak-anak.

Saya dan Si Bungsu ikut serta ke sana, membantu Si Tengah menggali dan mencabut ubi. Cuaca musim gugur masih terasa cukup hangat, lantaran matahari juga bersinar sangat cerah.

Yang menarik adalah persiapan orang-orang Jepang itu. Sejak sebulan yang lalu surat pemberitahuan sudah diedarkan, di mana disebutkan orang-orang yang ingin ikut ke ladang, tentu termasuk semua anak-anak, mesti memakai sepatu boot. Khusus orang dewasa, diminta memakai kaos tangan tukang kebun, untuk menggali tanah pakai tangan. Untuk anak-anak sendiri, pihak sekolah menyediakan cangkul-cangkul kecil dari plastik.