Hari ini Sabtu. Biasanya kita pergi jalan-jalan entah ke mana; apakah itu sekedar ke taman kecil depan rumah, atau ke taman luas Gotenbei, atau taman yang berjarak lima belas menitan naik sepeda, atau bahkan ke Sakuragicho.Pagi ini, anakku, udara musim semi berhembus cukup kencang, tapi tidak sampai membuat pot bunga Mama, pemberian orang tua murid teman TK-mu saat perpisahan itu, terbalik. Ya, bunga Pelica ungu kebiruan itu kini kami tempatkan di pekarangan, bukan lagi di atas meja di ruang keluarga, bersisihan dengan sudut main kalian. Sebabnya, ketika Mama, Kakak, kamu dan Adik sepuluh hari di Indonesia, Bapak tidak sempat menyiram bunga tersebut tiap hari. Daripada mati kekeringan, lebih aman ditaruh di luar, di mana air hujan cukup sering turun menyirami tumbuh-tumbuhan yang sedang menyiapkan pentas semarak mereka di musim semi ini.
Udara musim semi yang berhembus pagi ini tak menyebabkan rasa dingin seperti bulan-bulan lalu, anakku. Karenanya, Bapak mengusulkan kita semua pergi jalan-jalan pagi, sekitar jam tujuh, ke kombini terdekat dan makan penganan ringan di taman sekitar rumah. Adik Fadiya yang paling senang, tidak bisa sabar menunggu Mama siap-siap. Kakak Fatimah agak terlambat bangunnya, salat subuh kesiangan. Oya, apa kamu sudah biasa pergi ke masjid salat subuh bersama Kakek atau Om Otto?
Pagi ini semua memakai pakaian bernuansa biru-pink-hitam. Mama memakai rok pemberian Tante Fifi, yang warnanya biru donker. Kata Kakak Fatimah, Mama seperti anak SMP, seperti seragamnya Kakak Aisyah. Pandangan Bapak lain lagi. Mama seperti guru SMA yang enak digoda murid-muridnya. Fadiya sendiri cuma bertanya, apakah Mama mau pergi ke sekolah? Komentar-komentar itu, meski ramai dan panjang, tetap saja terasa kurang. Ada satu gaya komentar yang mestinya melengkapi keramaian itu. Komentar yang biasanya tidak terduga namun brilian, yang dilontarkaln lidah anak kecil yang kini sedang di Indonesia.
Dalam perjalanan menuju ke kombini, Mama melalui jalan yang tepinya banyak tumbuh semak berdaun hijau yang pernah kita ambil untuk pewarna kue, yang di atasnya juga banyak tumbuh pohon bambu yang pernah diambil Om Alling untuk membuat tembak-tembakan saat ke sini sekitar dua bulan yang lalu. Tiba-tiba Mama melihat dua ekor ulat bulu. Warnanya kuning bersetrip hitam, dengan panjang sekitar tujuh atau delapan senti. Tentu saja Mama jadi ingat sama kamu, yang dulu sangat suka mengoleksi ulat bulu.
Ulat-ulat bulu itu akan bertambah banyak sampai awal Mei, dan ketika udara sudah betul-betul hangat, kalau tidak sekalian panas, mereka akan menyemarakkan pemandangan dengan beterbangan sebagai kupu-kupu aneka warna. Kupu-kupu yang juga dulu sering kita kejar namun kemudian kita lepas setelah tertangkap. Adakah engkau juga bisa bercanda dengan ulat dan kupu-kupu di Indonesia? Apakah kalomang yang kita beli di depan SDIT Al-Hikmah, yang kini jadi penghuni baru kotak seranggamu, masih hidup dan ceria berjalan di atas daun-daun sawi? Semoga.




